Serpong, 28 Agustus 2026 – Prestasi kembali ditorehkan mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bogor dalam ajang Hospartation 2026. Berkompetisi pada kategori Making Bed & Towel Art Competition, mahasiswa Program Studi D4 Perhotelan STP Bogor berhasil meraih dua posisi sekaligus, memperlihatkan kemampuan mahasiswa dalam menguasai keterampilan teknis yang menjadi bagian penting dari industri perhotelan.
Dua mahasiswa yang berhasil membawa pulang prestasi tersebut adalah Nanda Deo Atana yang meraih 2nd Winner dan Muhamad Ade Ardiansyah yang meraih 3rd Winner.
Capaian tersebut menjadi lebih dari sekadar deretan piala atau sertifikat. Bagi STP Bogor, keberhasilan mahasiswa tampil kompetitif dalam ajang hospitality merupakan salah satu gambaran bagaimana proses pembelajaran di kampus tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga memberikan ruang yang besar bagi mahasiswa untuk berlatih, mengasah keterampilan, dan terbiasa dengan standar kerja industri.

Seberapa sulitkah merapikan tempat tidur? Pertanyaan tersebut mungkin terlintas di benak siapa pun yang melihat ranjang hotel tertata rapi. Karena hampir semua orang pernah merapikan kasurnya sendiri, keterampilan ini kerap dipandang sebelah mata. Gambaran tersebut berubah sepenuhnya ketika seseorang melangkah ke arena kompetisi. Timer berjalan, para juri mengelilingi ranjang, pandangan mereka tajam mencari satu kerutan kecil pada seprai, dan tangan mereka memeriksa ketepatan lipatan di setiap sudut ranjang. Di arena tersebut, merapikan tempat tidur bukan lagi keseharian rumah tangga, melainkan keterampilan yang menuntut ketelitian, kecepatan, dan ketenangan tingkat tinggi.
Dari arena semacam itulah kabar baik datang bagi STP Bogor. Capaian ganda dalam satu cabang lomba ini bukan sebuah kebetulan, melainkan penanda bahwa sistem pembelajaran di kampus berjalan dengan baik, mulai dari praktik yang mendalam, standar yang jelas, hingga bimbingan dosen yang benar-benar menguasai bidangnya.
Untuk memahami bobot prestasi tersebut, perlu dikenal terlebih dahulu medan tempat keterampilan ini ditempa, yaitu housekeeping. Housekeeping merupakan departemen di hotel yang bertanggung jawab atas kebersihan, kerapihan, kenyamanan, dan estetika kamar tamu serta area publik. Departemen ini dapat diibaratkan “jiwa” sebuah hotel karena jarang tampil di panggung depan, tetapi menentukan kesan pertama tamu saat membuka pintu kamar sekaligus memengaruhi keputusan tamu untuk kembali.
Di dalam housekeeping terdapat dua keterampilan paling ikonik, yakni Making Bed dan Towel Art. Towel Art merupakan seni melipat dan membentuk handuk menjadi ornamen dekoratif seperti angsa, gajah, atau bunga yang menghadirkan kesan istimewa bagi tamu. Adapun Making Bed merupakan proses menata ranjang sesuai standar hotel, mulai dari pemasangan seprai yang kencang tanpa kerutan, lipatan yang tegas, hingga simetri yang sempurna.
Di rumah, merapikan kasur hanya membutuhkan waktu beberapa menit tanpa ada pihak yang menginspeksi, sehingga wajar bila banyak orang menganggapnya sederhana. Di dunia perhotelan dan arena kompetisi, ceritanya sangat berbeda. Seprai harus terbentang kencang, karena kerutan kecil yang tidak terlihat oleh mata awam akan menjadi poin pengurang di mata juri. Lipatan pada sudut ranjang yang dikenal dengan istilah hospital corners harus tajam dan identik di semua sisi sehingga tidak dapat dikerjakan secara asal-asalan. Jatuhnya selimut di sisi kiri dan kanan ranjang pun harus seimbang hingga hitungan sentimeter, dan dalam perlombaan para juri tidak ragu untuk mengukurnya secara langsung.
Selain ketelitian, terdapat pula tuntutan kecepatan, karena di dunia kerja seorang room attendant bekerja dengan target waktu yang ketat untuk setiap kamar. Kecepatan dan ketelitian harus hadir secara bersamaan. Menyelipkan linen ke bawah kasur yang berat juga membutuhkan teknik tubuh yang benar, sebab teknik yang keliru akan membuat hasil tidak konsisten dan tubuh cepat lelah.
Merapikan satu ranjang dengan sempurna dapat terjadi karena keberuntungan, tetapi merapikan ratusan ranjang dengan sempurna dalam kondisi apa pun merupakan keahlian yang hanya lahir dari ratusan kali pengulangan. Oleh karena itu, Making Bed sering disejajarkan dengan keterampilan pisau seorang juru masak profesional, yakni terlihat sederhana dari luar, tetapi tingkat penguasaannya tampak jelas dari satu hasil akhir.
Kehandalan semacam itu tidak terbentuk melalui penjelasan di papan tulis semata. Di sinilah pendekatan pembelajaran STP Bogor berperan penting. Sebagai perguruan tinggi yang menekankan pendidikan vokasi melalui Program 1 Tahun, D3, dan D4, STP Bogor menerapkan komposisi 70 persen praktik dan 30 persen teori. Dengan komposisi tersebut, keterampilan seperti Making Bed dan Towel Art tidak sekadar dipahami secara teoritis, tetapi dilatih hingga melekat sebagai memori otot. Mahasiswa mengulang teknik berkali-kali dengan standar hotel sesungguhnya, lengkap dengan tuntutan kecepatan dan konsistensi sebagaimana di dunia industri. Ruang kelas memberikan pemahaman mengenai alasan di balik setiap prosedur, sementara ruang praktik memberikan kesempatan untuk menguasai caranya secara utuh.
Kehandalan tersebut juga tidak terbentuk dengan sendirinya. Di belakang mahasiswa yang berlatih, terdapat figur pembimbing yang berperan besar, yaitu Ibu Diah Renata Anggraeni, S.Tr.Par., M.M., dosen STP Bogor yang akrab disapa Mam Reni. Dengan latar belakang pendidikan vokasi pariwisata hingga magister manajemen, Mam Reni memastikan kehandalan mahasiswa di bidang housekeeping, bukan sekadar mampu mengerjakan, melainkan teliti, cepat, konsisten, dan berkarakter kerja profesional. Kombinasi antara keterampilan teknis dan pembentukan mental inilah yang membuat mahasiswa STP Bogor tampil tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai juara.
Kemenangan di arena lomba memang membuktikan ketahanan mental dan ketelitian teknis di bawah tekanan juri. Namun, ujian sesungguhnya bagi pendidikan vokasi bukanlah piala yang dibawa pulang, melainkan performa nyata di tempat kerja. Standar tinggi yang ditempa di ruang praktik kampus pada akhirnya harus mampu memenuhi ekspektasi industri perhotelan yang sesungguhnya.
Kemenangan Nanda Deo Atana dan Muhamad Ade Ardiansyah di kancah kompetisi, dengan demikian menjadi penutup yang tegas bagi seluruh rangkaian pembuktian ini. Prestasi demi prestasi tersebut bukan hasil kebetulan, melainkan buah langsung dari metode pembelajaran yang menempatkan praktik sebagai inti, dari bimbingan dosen yang menguasai bidangnya, serta dari latihan berulang yang mengubah ketelitian menjadi kebiasaan. Apabila keterampilan yang kerap dipandang sederhana seperti merapikan tempat tidur saja mampu mengantarkan mahasiswa STP Bogor berdiri di podium juara dan meraih pengakuan hotel bintang lima, satu kesimpulan dapat ditarik dengan jelas. Kesimpulan tersebut adalah bahwa di kampus ini keunggulan tidak sekadar dijanjikan, melainkan dilatih, diuji, dan dibuktikan secara nyata.