Kota Bogor kembali bersiap menyambut salah satu festival budaya tahunan terbesar di Jawa Barat: Cap Go Meh Bogor Street Festival (CGM BSF), yang akan digelar pada 1–3 Maret 2026. Sebagai puncak perayaan Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh menjadi momen penting yang tidak hanya dirayakan oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga oleh masyarakat lintas suku dan agama sebagai bagian dari keragaman budaya Indonesia.
Cap Go Meh sendiri adalah hari ke-15 dalam kalender Imlek, menandai selesainya rangkaian perayaan Tahun Baru Cina dan menjadi simbol awal baru dan perayaan kebersamaan. Di Bogor, festival ini telah berkembang menjadi acara besar yang dikenal sebagai Bogor Street Festival — sebuah pesta rakyat yang meriah. Festival tahun ini membawa nuansa yang berbeda karena berbarengan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, sebuah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Rangkaian acara diperkirakan mencakup:
- Pembukaan dan bazar UMKM Ramadhan sepanjang Jalan Suryakencana (1–3 Maret)
- Buka puasa bersama komunitas dan anak yatim sebagai bagian dari kegiatan sosial pembuka
- Pawai budaya Cap Go Meh yang direncanakan berlangsung malam hari pada 3 Maret 2026 setelah salat tarawih, agar masyarakat yang berpuasa tetap dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk sekaligus menyaksikan atraksi budaya secara penuh
Rute pawai tahun ini juga mengalami penyesuaian demi kenyamanan pengunjung dan lalu lintas di tengah Ramadan, dengan titik pusat di Jalan Suryakencana dan rute yang kembali melalui Gang Aut dan Jalan Roda.
Cap Go Meh di Bogor bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi magnet wisata penting yang mendatangkan kunjungan domestik hingga internasional. Tahun sebelumnya, festival ini dipadati ribuan warga dan wisatawan yang rela datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan parade seni dan budaya yang berlangsung sepanjang Jalan Suryakencana hingga Jalan Siliwangi.
Dari sisi ekonomi daerah, festival ini telah menjadi ritme penting bagi pelaku UMKM lokal, pengusaha kuliner, sektor jasa, dan hotel. Parade barongsai dan liong yang berkilauan serta atraksi budaya lain turut menyedot pengunjung yang juga menjadi konsumen potensial untuk belanja suvenir, makanan khas, dan pengalaman wisata lainnya — memberikan kontribusi nyata pada pendapatan asli daerah (PAD).
Kondisi Cap Go Meh yang berbarengan dengan Ramadan pada 2026 justru memperkuat citra Bogor sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi, inklusivitas, dan harmoni sosial — sebuah potensi wisata budaya yang menjadi nilai tambah unik di tengah situasi nasional dan global.
Bogor memiliki geografi, sejarah, dan budaya yang kaya, menjadikannya tujuan wisata yang menarik sepanjang tahun. Namun peristiwa seperti Cap Go Meh memberikan momen puncak kunjungan wisata dengan berbagai peluang:
- Wisata Budaya dan Jalan Kaki
Festival parade barongsai, liong, seni regional, dan pameran budaya di kawasan Suryakencana merupakan daya tarik kuat bagi wisatawan yang ingin mengalami budaya Indonesia yang hidup dan kolaboratif. - Kuliner & Bazar UMKM
Perayaan ini biasanya diikuti bazar kuliner, termasuk sajian khas Bogor dan Nusantara yang unik, serta bazar Ramadan, yang menciptakan food tourism yang kuat. - Hospitality & Akomodasi
Hotel & penginapan di Bogor diperkirakan mengalami kenaikan okupansi selama periode ini, dikuatkan oleh kunjungan wisatawan luar kota yang mencari pengalaman budaya lokal dan suasana Ramadan yang hangat. - Sinergi Event Ramah Keluarga
Program buka puasa bersama, bazar Ramadhan, dan webinar budaya memberikan nilai pengalaman yang inklusif — menarik tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga keluarga dan komunitas kreatif.
Momentum Cap Go Meh 2026 yang sarat nilai budaya, manajemen event, serta pengelolaan destinasi berbasis keberagaman ini juga menjadi contoh nyata bagaimana industri pariwisata membutuhkan sumber daya manusia yang profesional dan adaptif. Fenomena kolaborasi lintas komunitas, pengaturan arus wisatawan, hingga strategi aktivasi UMKM lokal adalah praktik riil yang dipelajari dalam Program S1 Pariwisata STP Bogor. Melalui pendekatan akademik dan praktik lapangan, mahasiswa tidak hanya memahami teori pengembangan destinasi dan event tourism, tetapi juga terlibat dalam dinamika industri yang sesungguhnya—mempersiapkan lulusan yang siap berkontribusi langsung pada penguatan pariwisata daerah maupun nasional.
Penulis: Tasya Septiani, S.Par